Minggu, 06 September 2009

skripsi

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Ketersediaan bahan pakan di Indonesia, terutama ternak ruminansia yang berupa hijauan sangat fluktuatif tergantung pada musim. Pada musim hujan hijauan sebagai pakan utama ternak ruminansia melimpah sedangkan pada musim kemarau sangat terbatas sampai tidak ada produksi sama sekali tergantung pada lamanya musim kemarau (Utomo, 2004).
Kebutuhan pakan ternak semakin besar yang tidak diimbangi dengan ketersediaan bahan pakan yang cukup, menyebabkan harga pakan menjadi mahal. Dengan demikian, terbatasnya ketersediaan bahan pakan, disamping adanya persaingan dengan manusia, kiranya perlu dirintis usaha penganekaragaman pakan ternak yaitu dengan jalan memanfaatkan sumber pakan baru yang potensial, murah dan mudah diperoleh. Atau dengan memanfaatkan gulma seperti semak bunga putih.
Pada beberapa daerah, potensi bahan pakan ternak, khususnya ternak domba, banyak. Tetapi kurang atau tidak dapat dimanfaatkan karena beberapa alasan seperti kandungan anti nutrisinya yang tinggi, harus diolah terlebih dahulu agar dapat dimanfaatkan ataupun masyarakat tidak menyadari kegunaan dan potensi bahan pakan tersebut.
Semak bunga putih merupakan gulma yang merugikan bagi pertumbuhan tanaman pertanian (Rahmawati, 2004). Gulma ini tidak dikehendaki kehadirannya dalam suatu area tertentu karena dianggap mengganggu tanaman pertanian maupun rumput yang merupakan pakan ternak. Itulah sebabnya gulma ini terus diupayakan pemusnahannya (Rovihandono, 2007).
Ditinjau dari keberadaan tanaman gulma semak bunga putih yang merupakan gulma bagi tanaman pertanian dan pemanfaatannya masih sedikit, serta pakan alternatif yang bernilai ekonomis, maka salah satu cara untuk mengatasi masalah di atas adalah dengan memanfaatkan semak bunga putih sebagai salah satu bahan pakan ternak, dalam hal ini ternak domba.
Semak bunga putih berpotensi sebagai pakan ternak karena memiliki kandungan protein yang cukup tinggi setara dengan lamtoro, palatabilitas lebih baik dari gamal, degrabilitas efektif dalam rumen > 80%, penggunaan sampai 30% dalam pakan meningkatkan konsumsi dan pertumbuhan ternak ruminansia, penelitian di Afrika dan Eropa menunjukkan ada senyawa antihelmintik (Marthen, 2007). Selain itu, semak bunga putih merupakan gulma bagi tanaman pertanian, sehingga secara tidak langsung pemberian semak bunga putih sebagai pakan ternak dapat membantu dalam usaha pengendalian gulma bagi tanaman pertanian. Hal yang serupa juga dinyatakan oleh Bamikole (2006) bahwa pemberian semak bunga putih sampai 30% bahan kering dapat meningkatkan efisiensi dan konversi pakan domba, semak bunga putih juga memiliki gizi yang mirip dengan pakan konsentrat sehingga dapat digunakan sebagai bahan pakan.
Berdasarkan uraian di atas, penulis ingin mengetahui dan menguji pengaruh pemberian semak bunga putih yang merupakan gulma pengganggu yang terus diupayakan pemusnahannya dapat dijadikan sebagai pakan yang bermanfaat bagi ternak khususnya ternak domba.

Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh pemberian semak bunga putih terhadap konsumsi pakan, pertambahan bobot badan dan konversi pakan domba jantan masa pertumbuhan.

Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai bahan informasi bagi peneliti, kalangan akademis, maupun peternak khususnya peternak domba tentang pemberian bunga semak putih, sebagai salah satu pakan ternak. Selain itu, membantu dalam usaha pengendalian gulma tanaman pertanian.

Hipotesa Penelitian
Pemberian semak bunga putih dalam pakan domba berpengaruh positif terhadap konsumsi pakan, pertambahan bobot badan, dan konversi pakan domba jantan masa pertumbuhan.











TINJAUAN PUSTAKA

Semak Bunga Putih (Chromolaena odorata)
Klasifikasi Semak Bunga Putih (Chromolaena odorata)
Kingdom : Plantae
Division : Magnoliophyta
Class : Magnoliopsida
Ordo : Asterales
Family : Asteraceae
Tribe : Eupatorieae
Genus : Chromolaena
Species : odorata
(Pink, 2004).
Menurut Marthen (2007), potensi Semak Bunga Putih sebagai pakan ternak :
1. Kandungan protein cukup tinggi (21-36%) sebagai pakan ternak, setara dengan daun lamtoro, turi, dan gamal.
2. Produksi protein kasar dapat mencapai 15 ton/ha/tahun..
3. Degradibilitas efektif dalam rumen lebih dari 80%
4. Palatabilitas lebih baik dari gamal.
5. Penelitian di Afrika menunjukan adanya senyawa antihelmintik.
6. Potensi pertumbuhan dengan laju 1,5-2,5 cm/hari dan membentuk semak yang mampu mencapai tinggi sampai 3 meter. Tumbuhan ini memiliki banyak cabang yang berpotensi untuk pertumbuhan daun serta tumbuh dalam jarak rapat. Pertumbuhan cepat menyebar karena produksi biji sangat tinggi (>93.000 biji/pohon/tahun), tahan pemangkasan, renggutan, api, panas dan bila kekurangan air, maka daun mengering dan gugur tetapi bonggol tetap hidup.Kandungan nilai gizi Semak Bunga Putih disajikan pada Tabel berikut.
Tabel 1. Kandungan nilai gizi semak bunga putih (Chromolaena odorata)

Uraian Kandungan (%)
Kadar air 10,56
Kadar abu 17,49
Protein kasar 13,62
Lemak kasar 3,39
Serat kasar 13,97
TDN 63,92
BETN 40,97
Sumber: Loka Penelitian Kambing Potong, Sei Putih 2008

Semak bunga putih merupakan tumbuhan perdu berkayu tahunan. Di perkebunan karet umumnya tumbuh jarang, tetapi di kawasan utara (Aceh) dan kawasan selatan (Labuhan Batu) sering tumbuh rapat dan dominan. Gulma ini mempunyai ciri khas: daun berbentuk segi tiga mempunyai tiga tulang nyata terlihat dan bila diremas terasa bau yang sangat menyengat, percabangan berhadapan, perbungaan majemuk yang dari jauh terlihat berwarna putih kotor. Semak bunga putih adalah gulma yang tangguh karena batangnya keras berkayu dan perakarannya kuat dan dalam. Selain itu semak bunga putih menghasilkan biji yang banyak dan mudah tersebar dengan bantuan angin karena adanya rambut papus. Di luar kebun, semak bunga putih sering terdapat di tepi jalan, pada areal kebun yang tidak diusahakan, di semak-semak, di tepi hutan, dan lain-lain (Nasution, 1987).
Semak Bunga Putih (Chromolaena odorata) disajikan pada gambar berikut:


Gambar 2. Semak Bunga Putih (Chromolaena odorata)
Meskipun menurut Marthen (2007) Chromolaena odorata mempunyai potensi sebagai pakan ternak, namun menurut Ikhimioya (2003), Chromolaena odorata mengandung zat antinutrisi. Kandungan antinutrisi Chromolaena odorata adalah sebagai berikut:
Tabel 2. Kandungan antinutrisi Choromolaena odorata
Jenis Antinutrisi Jumlah
Haemagglutinnin, mg/g 9.72
Oxalate, % 1.89
Phytic acid, % 1.34
Saponin, % 0.50


Tingginya kandungan Zat anti nutrisi dalam pakan akan menurunkan kecernan protein(Parakkasi,1995).

Ternak Domba
Domba diklasifikasikan sebagai hewan herbivora (pemakan rumput atau tumbuhan) karena pakan utamanya adalah tanaman atau tumbuhan. Domba juga merupakan hewan mamalia karena menyusui anak-anaknya. Sistem pencernaan pakan yang khas di dalam rumen menyebabkan domba juga digolongkan sebagai hewan ruminansia. Sistem pencernaan yang khas inilah yang menyebabkan domba mampu mengkonversi pakan-pakan berkualitas rendah menjadi produk bergizi tinggi, seperti daging dan susu, serta hasil ikutan yang berkualitas tingggi, seperti kulit dan wol (Sodiq dan Abidin, 2002).
Domba sudah sejak lama diternakkan oleh manusia. Semua jenis domba memiliki beberapa karakteristik yang sama. Adapun numenklatur domba tersebut yaitu :
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Mamalia
Ordo : Artiodactyla
Family : Caprae
Sub-family : Caprinae
Genus : Ovis aries
Spesies : Ovis mouffon (domba mouffon), Ovis orientalis, Ovis vignei (domba Urial), Ovis canadensis (domba Bighorn) (Blakely dan Bade, 1998).
Menurut Tomaszeweska et al., (1993) ternak domba mempunyai beberapa keuntungan dilihat dari segi pemeliharaannya, yakni:
1. Cepat berkembang biak, dapat beranak lebih dari satu ekor dan dapat beranak dua kali dalam setahun.
2. Selalu bergerombol bila sedang merumput atau berjalan.
3. Kurang pemilih dalam hal pakan sehingga memudahkan dalam pemeliharaan.
4. Dapat memberikan pupuk kandang untuk keperluan pertanian.
Sebagai sumber keuangan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga yang mendadak.
Pertumbuhan Ternak Domba
Pertumbuhan adalah kenaikan bobot badan dengan melakukan perkembangan berulang-ulang dan dinyatakan dengan pertambahan bobot badan tiap hari, tiap minggu atau tiap waktu lain (Tillman et al., 1991). Menurut Anggorodi (1990) pertumbuhan murni mencakup dalam bentuk dan berat jaringan-jaringan pembangun seperti urat daging, tulang, jantung, otak dan semua jaringan tubuh lainnya (kecuali jaringan lemak) dan alat-alat tubuh. Pada umumnya pertumbuhan pada ternak mamalia dapat dibagi dalam dua periode utama yakni prenatal dan postnatal.
Dalam masa pertumbuhan ada dua hal yang terjadi yaitu adanya kenaikan bobot badan atau komponen tubuh sampai mencapai ukuran dewasa yang disebut pertumbuhan dan adanya perubahan bentuk konformasi disebabkan oleh perbedaan laju pertumbuhan jaringan. Proses penggemukan termasuk ke dalam perkembangan tubuh (Hammond et al., 1976).
Ternak yang mempunyai potensi genetik pertumbuhan yang tinggi akan mempunyai respon yang baik terhadap pakan yang diberikan dan memiliki efisiensi produksi yang tinggi dan adanya keragaman yang besar dalam konsumsi bahan kering (Devendra and Burns, 1970).

Bobot Badan (kg)
Pertumbuhan biasanya mulai perlahan-lahan kemudian berlangsung lebih cepat dan akhirnya perlahan-lahan lagi atau sama sekali terhenti. Pola seperti ini menghasilkan kurva pertumbuhan yang berbentuk sigmoid (Gambar 1). Tahap cepat pertumbuhan terjadi pada saat kedewasaan tubuh hampir tercapai (Anggorodi, 1990).
Bobot Badan
Pertumbuhan Lambat

Pertumbuhan Cepat

Pertumbuhan Lambat

0 3 6 9 Umur (bulan)

Pencernaan Ruminansia
Perkembangan sistem pencernaan pada domba mengalami 3 fase perubahan. Fase pertama, pada Domba dilahirkan sampai dengan umur 3 minggu yang disebut non ruminansia karena pada tahapan ini fungsi sistem pencernaan sama dengan hewan monogastrik. Fase kedua mulai 3-8 minggu disebut fase transisi yaitu perubahan dari tahapan nonruminansia menjadi ruminansia yang ditandai dengan perkembangan rumen. Tahap ketiga yaitu fase ruminansia dewasa setelah umur domba lebih dari 8 minggu (Van Soest, 1982).
Ternak ruminansia memiliki empat bagian perut yaitu rumen, retikulum, omasum dan abomasum, keempatnya tidak mempunyai perbedaan yang nyata ketika ternak dilahirkan. Bagian perut yang terakhir mempunyai ukuran lebih besar dibanding ketiga bagian perut yang lain (Kartadisastra, 1997).
Menurut Sutardi (1980), kapasitas dari rumen ternak ruminansia sangat besar yaitu 4-10 liter untuk ternak domba. Sedangkan fungsi mikroba yang terdapat dalam retikulum adalah melaksanakan fermentasi, membentuk vitamin B kompleks dan vitamin K serta sumber zat makanan bagi induk semangnya.
Pakan Ruminansia
Bahan pakan adalah bahan yang dapat dimakan, dicerna dan digunakan oleh hewan. Secara umum dapat dikatakan bahwa bahan pakan adalah bahan yang dapat dimakan (Tillman et al ; 1991).
Menurut Kartadisastra (1997), kebutuhan ternak ruminansia terhadap pakan jumlahnya setiap hari sangat tergantung pada jenis, umur ternak, fase pertumbuhan (dewasa, bunting dan menyusui), kondisi tubuh (normal dan sakit), dan lingkungan tempat hidupnya serta bobot badannya. Komposisi pakan (kualitas dan kuantitas) yang tidak mencukupi kebutuhan, akan menyebabkan produktivitas ternak menjadi rendah antara lain ditunjukkan oleh laju pertumbuhan yang lambat dan bobot badan rendah (Martawidjaya dkk, 1999). Berikut ini adalah kebutuhan harian zat-zat makanan untuk ternak domba.
Tabel 2. Kebutuhan harian zat-zat pakan untuk ternak domba

BB BK Energi Protein Ca P
(Kg) (Kg) %BB ME TDN Total DD (g) (g)
(Mcal) (Kg)
5 0,14 2,8 0,6 0,61 51 41 1,91 1,4
10 0,25 2,5 1,01 1,28 81 68 2,3 1,6
15 0,36 2,4 1,37 0,38 115 92 2,8 1,9
20 0,51 2,6 1,8 0,5 150 120 3,4 2,3
25 0,62 2,5 1,91 0,53 160 128 4,1 2,8
30 0,81 2,7 2,44 0,67 204 163 4,8 2,3
Sumber: NRC (National Resourc Concil) (1995)
Menurut Cahyono (1998), pemberian pakan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi ternak dapat menyebabkan defisiensi zat pakan sehingga ternak mudah terserang penyakit. Penyediaan pakan harus diupayakan secara terus-menerus dan sesuai dengan standar gizi menurut status ternak yang dipelihara.
Potensi Bahan Pakan

Bungkil Inti Sawit
Menurut Davendra (1997) bungkil inti sawit adalah limbah hasil ikutan dari hasil ekstraksi inti sawit. Bahan ini diperoleh dengan proses kimiawi atau cara mekanik walaupun kandungan proteinnya agak baik tapi karena serat kasarnya tinggi dan palatabilitasnya rendah menyebabkan kurang cocok bagi ternak monogastrik dan lebih cocok pada ternak ruminansia.

Pelepah dan Daun Kelapa Sawit
Pelepah daun kelapa sawit meliputi helaian daun, setiap helainya terdiri dari lamina dan midrib, racis tengah, petiol dan kelopak pelepah. Helai daun berukuran 55 cm hingga 65 cm dan menguncup dengan lebar 2,5 cm hingga 4 cm. Setiap pelepah mempunyai lebih kurang 100 pasang helai daun. Jumlah pelepah yang dihasilkan meningkat 30-40 pelepah pada saat tanaman berumur tiga hingga empat tahun (http://www.wikipedia.org/pokokkelapasawit, 2006).
Di perkebunan PT Agricinal, setiap pohon rata-rata dapat menghasilkan 22 pelepah/tahun dengan rataan bobot pelepah 3,25 kg. Dengan demikian setiap hektar tanaman dapat menghasilkan pelepah 9.292 kg. Total bahan kering pelepah yang dihasilkan dalam setahun untuk setiap hektarnya adalah 1.640 kg. apabila 4.686 juta hektar tanaman kelapa sawit Indonesia merupakan tanaman produktif maka bahan kering yang tersedia mencapai 3.302 ton. Setiap pelepah rata-rata dapat menyediakan daun 0.5 kg, setara dengan 658 kg bahan kering/ha/tahun (http//www.pustaka.bogor.net.2003).
Daun kelapa sawit bila dilihat dari kandungan protein kasarnya maka bisa dijadikan sebagai sumber protein dalam pakan ternak ataupun sebagai pengganti sumber protein yang harganya relatif mahal. Tetapi menurut Sutardi (1980) kandungan serat kasarnya cukup besar sehingga mempengaruhi kecernaan bahan pakan.

Jerami Padi
Jerami padi adalah limbah pertanian yang dapat dimanfaatkan untuk menjadi pakan ternak. Jerami adalah bagian batang, daun tumbuhan yang setelah dipanen bulir-bulir buah bersama dengan tangkainya dikurangi dengan akar dan bagian batang yang tertinggal setelah disabit (Komar, 1984).
Karakteristik jerami padi ditandai dengan rendahnya kandungan protein, mineral khususnya kalsium dan posfor, nitrogen dan sedangkan serat kasarnya termasuk tinggi. Hal ini menurut Kartadisastra (1997) mengakibatkan daya cernanya rendah, konsumsinya menjadi terbatas, namun jerami padi masih potensial sebagai sumber energi dengan nilai TDN sebesar 45%, disamping jumlahnya sangat besar dan belum dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat.

Molases
Molases atau tetes tebu adalah hasil sampingan pengolahan tebu menjadi gula. Bentuk fisiknya berupa cairan yang kental dan berwarna hitam. Kandungan karbohidrat, protein ( 3-4% ) dan mineralnya cukup tinggi, sehingga bisa juga digunakan untuk pakan ternak walaupun sifatnya hanya sebagai pendukung. Disamping harganya murah, kelebihan tetes tebu adalah pada aroma dan rasanya. Oleh karena itu apabila dicampur dalam pakan maka akan bisa memperbaiki aroma dan rasanya (Hassan and Ishada, 1991).

Urea
Urea merupakan bahan pakan sumber nitrogen yang dapat difermentasi di dalam sistem pencernaan ruminansia. Urea dalam proporsi tertentu mempunyai dampak positif terhadap peningkatan konsumsi protein kasar dan daya cerna.
Anggorodi (1979) menyatakan bahwa urea yang ditambahkan dalam pakan ruminansia dengan kadar yang berbeda-beda, ternyata dirombak menjadi protein oleh mikroorganisme rumen. Sejumlah protein dan urea dalam ransum mempertinggi daya cerna selulosa dalam hijauan. Menurut Basir (1990), selain meningkatkan kualitas hijauan, urea juga dapat digunakan sebagai pengganti protein butir-butiran. Urea dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan protein untuk pertumbuhan pada produksi ternak ruminansia .
Urea yang diberikan di dalam pakan ternak ruminansia, di dalam rumen akan dipecah oleh enzim urease menjadi CO2 dan amonia, kemudian amonia bersama mikroorganisme akan membentuk protein mikroba dengan bantuan energi. Apabila urea berlebih atau tidak tercerna oleh tubuh ternak maka urea akan diabsorbsi oleh dinding rumen, kemudian dibawa oleh aliran darah ke hati dan di dalam hati dibentuk kembali amonia yang akhirnya dieksresikan melalui urine dan feses (Parakkasi, 1995).

Garam (NaCl)
Garam diperlukan domba sebagai perangsang menambah nafsu makan. Garam juga sebagai unsur yang dibutuhkan sekali dalam kelancaran pekerjaan faali tubuh. Domba membutuhkan garam sebanyak 5-10 gram/ekor/hari (Sumoprastowo, 1993). Garam yang dimaksud disini adalah garam dapur (NaCl), dimana selain berfungsi sebagai mineral juga berfungsi sebagai pembatas konsumsi yang berlebihan bagi ternak karena adanya rasa asin (Pardede dan Asmira, 1997).

Ultra Mineral
Mineral adalah zat anorganik yang dibutuhkan dalam jumlah yang kecil, namun berperan penting agar proses fisiologisnya dapat berlangsung dengan baik.
Mineral digunakan sebagai kerangka pembentukan tulang dan gigi, pembentukan darah dan pembentukan jaringan tubuh serta diperlukan sebagai komponen enzim yang berperan dalam proses metabolisme di dalam sel. Penambahan mineral dalam pakan domba atau kambing dapat dilakukan untuk mencegah kekurangan mineral di dalam pakan (Setiadi dan Inounu, 1991). Kandungan nilai gizi berbagai bahan pakan disajikan pada tabel di bawah berikut.
Tabel 3. Kandungan nilai gizi bahan pakan perlakuan

Bahan Pakan Kandungan Nilai Gizi (%)
BK PK LK SK TDN
Bungkil inti sawit 90,6 19 2 16 81
Pelepah dan daun kelapa sawit 93,41 6,5 4,47 32,55 56
Jerami padi 90 4,5 1,65 35 40
Molases 67,5 0,65 0,08 0,38 81
Sumber: - Laboratorium Ilmu Nutrisi dan Pakan Ternak, Departemen Peternakan FP USU (2001)
- Jatasari (1979)


Konsumsi Pakan

Tingkat konsumsi (voluntary feed intake) adalah jumlah pakan yang terkonsumsi oleh ternak bila pakan tersebut diberikan secara ad libitum. Konsumsi pakan ternak dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu tingkat energi, keseimbangan asam amino, tingkat kehalusan ransum, aktifitas ternak, berat badan, kecepatan pertumbuhan dan suhu lingkungan (Parakkasi, 1995).
Jumlah konsumsi bahan kering pakan dipengaruhi beberapa variabel meliputi palatabilitas, jumlah pakan yang tersedia dan komposisi kimia serta kualitas bahan pakan (Departemen Pertanian, 2002). Menurut Parakkasi (1995) yang menumbuhkan daya tarik dan merangsang ternak untuk mengkonsumsi pakan adalah palatabilitas. Makanan yang berkualitas baik, tingkat konsumsinya lebih tinggi dibandingkan dengan makanan berkualitas rendah, sehingga kualitas pakan yang relatif sama maka tingkat konsumsinya juga relatif sama.



Pertambahan Bobot Badan
Pertambahan bobot badan dapat dikatakan pertumbuhan dimana pertumbuhan itu adalah suatu fenomena universal yang kompleks mulai dari fertilitas, pembelahan, perbanyakan sel serta diferensiasi sel-sel. Pertumbuhan murni yaitu menyangkut pertumbuhan jaringan dalam otot dan tulang serta organ-organ tubuh (Maynard et al., 1979).
Tillman et al (1983) menyatakan bahwa pertumbuhan adalah pengukuran kenaikan bobot badan dengan melakukan penimbangan berulang-ulang dan dinyatakan dengan pertambahan bobot badan tiap hari, tiap minggu atau tiap waktu lainnya. Menurut Tomaszewska, dkk (1993) bahwa laju pertambahan bobot badan dipengaruhi oleh umur, lingkungan dan genetik dimana berat tubuh awal fase penggemukan berhubungan dengan berat dewasa.
Konversi Pakan
Konversi pakan adalah perbandingan antara jumlah yang dikonsumsi pada waktu tertentu dengan produksi yang dihasilkan (pertambahan bobot badan atau produksi yang dihasilkan) dalam kurun waktu yang sama. Konversi pakan adalah indikator teknis yang dapat menggambarkan tingkat efisiensi penggunaan pakan, semakin rendah angka konversi pakan berarti semakin baik (Anggorodi, 1979).
Neshum et al (1979) menyatakan bahwa faktor yang mempengaruhi konversi ransum yaitu lingkungan (suhu, penyakit, makanan dan minuman). Kemampuan genetik, nilai gizi ransum dan tingkat energi ransum.
Konversi pakan diukur dari jumlah bahan kering yang dikonsumsi dibagi dengan unit pertambahan bobot badan persatuan waktu. Konversi pakan khususnya pada ternak ruminansia dipengaruhi oleh kualitas pakan, pertambahan bobot badan dan nilai kecernaan. Dengan memberikan kualitas pakan yang baik ternak akan tumbuh lebih cepat dan lebih baik konversi pakannya (Martawidjaya et al., 1999).

BAHAN DAN METODE PENELITIAN

Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Biologi Ternak Departemen Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan. Penelitian berlangsung selama 3 bulan dimulai dari bulan Agustus 2008 sampai Oktober 2008.

Bahan dan Alat Penelitian
Bahan
Bahan yang digunakan antara lain:
• 20 ekor domba jantan lepas sapih dengan bobot badan
(15,65 Kg ± 1,6)
• Semak Bunga Putih (Chromolaena odorata)
• Pakan yang disusun menurut perlakuan
• Obat-obatan seperti obat cacing (kalbazen), salep mata (terramycin) anti bloat untuk obat kembung dan vitamin.
• Air minum.
• Desinfektan (Rodalon)

Alat
Alat yang digunakan antara lain:
• Kandang metabolis 20 unit dengan ukuran 1x 0,5m beserta kelengkapannya.
• Tempat pakan dan minum.
• Timbangan, untuk menimbang domba berkapasitas 50 kg dengan kepekaan 200g, timbangan berkapasitas 2 kg dengan kepekaan 10 g untuk menimbang pakan.
• Choper untuk mencincang bahan pakan.
• Grinder untuk menghaluskan bahan pakan yang bentuk fisiknya kasar.
• Terpal plastik untuk menjemur bahan pakan.
• Ember, sapu, alat tulis dan kalkulator serta alat penerangan.

Metode Penelitian
Adapun rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari empat perlakuan dan lima ulangan. Setiap ulangan terdiri dari satu ekor domba.
Sedangkan ulangan didapat dari rumus :
t (n-1) ≥ 15
4 (n-1) ≥ 15
4n-4 ≥ 15
4n ≥ 19
n ≥ 4.75 dibulatkan 5
Perlakuan yang diteliti adalah sebagai berikut :
P0 = Pakan tanpa semak bunga putih (Chromolaena odorata) (0%)
P1 = Pakan dengan (15%) semak bunga putih (Chromolaena odorata)
P2 = Pakan dengan (30%) semak bunga putih (Chromolaena odorata)
P3 = Pakan dengan (45%) semak bunga putih (Chromolaena odorata)


Table 4. Formulasi Pakan Perlakuan
Perlakuan/ Bahan Jumlah (%) Nutrisi
PK LK SK TDN
Kontrol (P0)
Pelepah dan daun kelapa sawit 36 4.7268 1.6092 11.718 20.16
Bungkil inti sawit 43 8.17 0.86 6.88 34.83
Jerami padi 14.3 0.6435 0.22165 5.005 5.72
Molases 5 0.0325 0.004 0.019 4.05
Mineral 0.5 0 0 0 0
Garam 0.5 0 0 0 0
Urea 0.7 1.49331 0 0 0
Jumlah 100 15.06611 2.69485 23.622 64.76

Perlakuan 1 (P1) Jumlah (%) Nutrisi
PK LK SK TDN
Pelepah dan daun kelapa sawit 31.3 4.10969 1.39911 10.18815 17.528
Bungkil inti sawit 36 6.84 0.72 5.76 29.16
Jerami padi 11 0.495 0.1705 3.85 4.4
Molases 5 0.0325 0.004 0.019 4.05
Chromolaena odorata 15 2.043 0.5085 2.0955 9.588
Garam 0.5 0 0 0 0
Urea 0.7 1.49331 0 0 0
Mineral 0.5 0 0 0 0
Jumlah 100 15.0135 2.80211 21.91265 64.726

Perlakuan 2 (P2) Jumlah (%) Nutrisi
PK LK SK TDN
Pelepah dan daun kelapa sawit 24.6 3.22998 1.09962 8.0073 13.776
Bungkil inti sawit 30.5 5.795 0.61 4.88 24.705
Jerami padi 8.2 0.369 0.1271 2.87 3.28
Molases 5 0.0325 0.004 0.019 4.05
Chromolaena odorata 30 4.086 1.017 4.191 19.176
Garam 0.5 0 0 0 0
Urea 0.7 1.49331 0 0 0
Mineral 0.5 0 0 0 0
Jumlah 100 15.00579 2.85772 19.9673 64.987

Perlakuan 3 (P3) Jumlah (%) Nutrisi
PK LK SK TDN
Pelepah dan daun kelapa sawit 21.3 2.79669 0.95211 6.93315 11.928
Bungkil inti sawit 23 4.37 0.46 3.68 18.63
Jerami padi 4 0.18 0.062 1.4 1.6
Molases 5 0.0325 0.004 0.019 4.05
Chromolaena odorata 45 6.129 1.5255 6.2865 28.764
Garam 0.5 0 0 0 0
Urea 0.7 1.49331 0 0 0
Mineral 0.5 0 0 0 0
Jumlah 100 15.0015 3.00361 18.31865 64.972
Denah pemeliharaan yang dilaksanakan sebagai berikut:
P02 P32 P35 P14
P25 P15 P13 P03
P34 P33 P24 P31
P05 P04 P11 P01
P23 P21 P22 P12

Dimana: Perlakuan (P0, P1, P2 dan P3)
Ulangan (1, 2, 3, 4 dan 5)
Hanafiah (2002) menyatakan bahwa metode linear yang digunakan untuk Rancangan Acak Lengkap (RAL) adalah:
Yij = µ + τi + Σij
Dimana:
Yij = Hasil pengamatan dari perlakuan tingkat ke-i dan pada ulangan ke-j.
I = perlakuan (i = 0 ….., 3).
J = ulangan (j = 1 ….., 5).
µ = Nilai tengah dimana Yij ditarik sebagai sampel.
τi = Pengaruh perlakuan berbagai level umbut sawit ke-i.
Σij = Pengaruh galat atau sisa seluruh faktor lain di luar perlakuan yang diulang ke-I dan mendapat perlakuan ke-j.


Parameter Penelitian
1. Konsumsi Pakan (g)
Konsumsi pakan dihitung setiap satu hari satu malam (24 jam). Data konsumsi pakan diperoleh dengan cara melakukan penimbangan pakan yang diberikan pada pagi hari kemudian dikurangkan dengan penimbangan sisa pakan yang dilakukan pada pagi hari besoknya.
Konsumsi pakan = pakan yang diberikan – pakan sisa.
2. Pertambahan Bobot Badan Domba (g)
Pertambahan bobot badan dihitung berdasarkan selisih dari penimbangan bobot badan akhir dikurangi dengan bobot badan awal dibagi dengan jumlah hari pengamatan. Pertambahan bobot badan dihitung dengan rumus:

Keterangan:
PBB = Pertambahan bobot badan (g/ekor/hari)
B2 = Bobot badan akhir penimbangan (kg)
B1 = Bobot badan awal penimbangan (kg)
T2 = Waktu akhir penimbangan (tanggal)
T1 = Waktu awal penimbangan (tanggal)
3. Konversi Pakan
Konversi pakan dihitung berdasarkan perbandingan jumlah pakan dikonsumsi (g/ekor/hari) dengan pertambahan bobot badan (g/ekor/hari). Konversi pakan dapat dihitung dari rumus berikut:

Pelaksanaan Penelitian
1. Persiapan Kandang
Kandang dan semua peralatan yang akan digunakan seperti tempat pakan dan tempat minum dibersihkan dan disinfektan.
2. Pengacakan Domba
Domba yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 20 ekor. Penempatan domba dilakukan dengan sistem pengacakan dimana sebelumnya bobot badan sudah homogen.
3. Pemberian Pakan dan Air Minum
Pakan yang diberikan adalah dalam bentuk tepung tanpa hijauan dimana semua bahan pakan yang digunakan dijadikan dalam bentuk konsentrat. Pakan diberikan pada pagi hari pada pukul 08.00 WIB dan sore hari pada pukul 16.00 WIB. Sisa pakan ditimbang untuk mengetahui konsumsi. Sebelum dilaksanakan penelitian diberikan waktu untuk beradaptasi, setelah domba dapat mengkonsumsi pakan penelitian 75-100% baru penelitian dimulai. Pemberian air minum dilakukan secara ad libitum, air diganti setiap harinya dan tempatnya dicuci bersih.

4. Pemberian Obat-obatan
Ternak domba pertama masuk kandang diberikan obat cacing selama adaptasi. Sedangkan obat lainnya diberikan bila diperlukan.
5. Analisis Data
Analisis data dilaksanakan setelah penelitian selesai dan semua data yang diperlukan telah diperoleh. Setelah data diperoleh dilakukan uji lanjut, apabila diperlukan.



HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil
Hasil penelitian dihitung dalam bahan kering yang diperoleh dari konsumsi pakan, pertambahan bobot badan, konversi pakan selama penelitian.

Konsumsi Pakan
Konsumsi pakan adalah kemampuan ternak untuk menghabiskan sejumlah pakan yang diberikan selama 24 jam. Konsumsi pakan dapat dihitung dengan pengurangan jumlah pakan yang diberikan dengan sisa dari pakan tersebut. Pakan yang diberikan selama penelitian dalam bentuk konsentrat. Pemberian pakan diberikan secara ad libitum. Konsumsi pakan dihitung selama penelitian adalah konsumsi berdasarkan bahan keringnya untuk perlakuan P0 sebesar 89.59%, P1 90.89%, P2 89.82%, dan P3 91.99%. Konsumsi pakan domba lokal jantan lepas sapih selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 5 berikut.
Tabel.5.Rataan konsumsi pakan dalam bahan kering domba jantan selama penelitian (g/ekor/hari)

Perlakuan Ulangan Total Rataan
1 2 3 4 5
P 0 454.28 561.38 535.88 551.18 485.34 2588.05 517.61
P 1 482.42 586.50 544.76 575.07 588.06 2776.81 555.36
P 2 589.33 491.68 531.39 551.18 511.79 2675.38 535.08
P 3 539.37 520.77 570.92 534.37 505.94 2671.36 534.27
Total 2065.41 2160.32 2182.94 2211.79 2091.13 10711.60 2142.32
Rataan 516.35 540.08 545.74 552.95 522.78 2677.90 535.58

Pada Tabel 5 dapat dilihat bahwa rataan konsumsi pakan tertinggi terdapat pada perlakuan P1 sebesar 555.3617 g/ekor/hari dan rataan terendah akan konsumsi pakan yaitu pada perlakuan P0 sebesar 517.6103 g/ekor/hari.
Pertambahan Bobot Badan
Salah satu kriteria yang digunakan untuk mengukur pertumbuhan ialah dengan mengukur pertambahan bobot badan. Pertambahan bobot badan adalah hasil penimbangan bobot badan sebelumnya persatuan waktu (g/ekor/hari). Adapun rataan pertambahan bobot badan domba jantan lepas sapih selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 6 berikut.
Tabel.6. Rataan pertambahan bobot badan domba jantan selama penelitian (g/ekor/hari)

Perlakuan Ulangan Total Rataan
1 2 3 4 5
P 0 47.78 118.89 62.22 62.22 55.56 346.67 69.334
P 1 43.33 106.67 80 121.11 84.44 435.55 87.11
P 2 84.44 90 76.67 82.23 82.67 416.01 83.202
P 3 116.67 45.56 140 47.78 52.22 402.23 80.446
Total 265.56 322.23 358.89 288.89 248.89 1484.46 296.892
Rataan 66.39 80.5575 89.7225 72.2225 62.2225 371.115 74.223

Pada Tabel 6. dapat dilihat bahwa rataan pertambahan bobot badan tertinggi terdapat pada perlakuan P1 yaitu sebesar 87.11 g/ekor/hari, dan rataan pertambahan bobot badan terendah yaitu pada perlakuan P0 69.334 g/ekor/hari.

Konversi Pakan
Konversi pakan dapat dihitung dengan cara membandingkan antara konsumsi pakan yang diberikan dengan pertambahan bobot badan yang didapat pada waktu yang sama. Nilai konversi yang paling kecil ialah pakan yang efisien. Penghitungan nilai konversi pakan dilakukan untuk mengetahui tingkat efisiensi penggunaan pakan. Rataan konversi pakan domba lokal jantan lepas sapih selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 7 berikut.

Tabel.7. Rataan konversi pakan domba jantan selama penelitian

Perlakuan Ulangan Total Rataan
1 2 3 4 5
P 0 9.51 4.72 8.61 8.86 8.74 40.44 8.09
P 1 11.13 5.50 6.81 4.75 6.96 35.15 7.03
P 2 10.20 9.62 6.93 9.54 9.03 45.32 9.06
P 3 4.62 11.43 4.08 11.18 9.69 41.01 8.20
Total 35.46 31.27 26.43 34.33 34.42 161.92 32.38
Rataan 8.87 7.82 6.61 8.58 8.60 40.48 8.10

Pada Tabel 7. dapat dilihat bahwa rataan konversi pakan tertinggi terdapat pada perlakuan P2 yaitu sebesar 9.064452, dan rataan konversi pakan terendah terdapat pada perlakuan P1 yaitu sebesar 7.03.


Pembahasan

Untuk mengetahui pengaruh pemberian dari keempat perlakuan tersebut terhadap konsumsi pakan domba lokal jantan lepas sapih dilakukan analisis sidik ragam yang terlihat pada Tabel.8 berikut.

Konsumsi Pakan
Tabel.8. Analisis ragam konsumsi pakan domba jantan selama penelitian (g/ekor/hari)

Keragam DB JK KT F.hit F.tabel
0,05 0,01
Perlk. 3 3580.943 1193.648 0.786446tn 3,24 5,29
Galat 16 24284.39 1517.774
Total 19 27865.33
Keterangan: tn = tidak nyata

Hasil analisis ragam pada Tabel 8 menunjukkan bahwa Fhitung lebih kecil dari Ftabel 0.05. Hal ini berarti pemberian pakan menggunakan semak bunga putih dengan level 15% sampai dengan 45% adalah tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap konsumsi (P>0.05). Pada Tabel 8 dapat dilihat bahwa konsumsi pakan (dalam bahan kering) tidak menunjukkan perbedaan yang nyata walaupun secara angka matematis berbeda. Hal ini terjadi karena umur dan bobot badan awal ternak masih homogen. Parakkasi (1995) menyatakan bahwa tingkat perbedaan konsumsi dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain faktor ternak, dan kualitas pakan (bobot badan,umur,tingkat kecernaan pakan). Pada dasarnya ternak ruminansia menyukai pakan dari tekstur, rasa dan aroma yang dikeluarkan oleh semak bunga putih. Parakkasi (1995) menyatakan bahwa jumlah konsumsi pakan dalam bentuk bahan kering juga dipengaruhi oleh palatabilitas.

Penelitian yang dilakukan oleh Ikhimioya (2003) adalah kelima sesudah Bambusa vulgaris, Mangifera indica, Newbouldia laevis. Berkaitan dengan yang dikatakan oleh Parakkasi (1995), bahwa tingkat konsumsi pakan dipengaruhi oleh palatabilitas, makan hal ini berkesesuaian dengan hasil penelitian ini yaitu tidak terdapat perbedaan yang nyata dalam tingkat konsumsi, karena Chromolaena odorata kurang disukai oleh ruminansia.
Konsumsi bahan kering pada penelitian ini sebesar 2.7% didapat dari menghitung total dari konsumsi dibagi bobot badan dikalikan 100%, lebih tinggi dari hasil NRC (National Resourc Concil) (1995) yang menyatakan bahwa konsumsi bahan kering ternak domba sekitar 2.6%, dari hasil tersebut dapat disimpulkan kebutuhan konsumsi bahan kering ternak dapat di penuhi. Ternak memiliki palatabilitas yang baik terhadap pakan dalam bahan kering pada penelitian ini disebabkan oleh aroma harum yang ditimbulkan oleh semak bunga putih menurut Marthen (2007) Semak bunga putih berpotensi sebagai pakan ternak karena memiliki kandungan protein yang cukup tinggi setara dengan lamtoro, palatabilitas lebih baik dari gamal, degrabilitas efektif dalam rumen > 80%, suplementasi sampai 30% dalam ransum meningkatkan konsumsi dan pertumbuhan ternak domba.
Penelitian tentang konsumsi pakan domba yang diberi penambahan Chromolaena odorata sampai level 20% yang dilakukan oleh Apori dkk (2003) menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang nyata. Hasil penelitian tersebut sejalan dengan penelitian ini, yaitu pemberian Chromolaena odorata sampai level 45% tidak menunjukkan hasil yang nyata terhadap konsumsi.


Pertambahan Bobot Badan
Untuk melihat pengaruh pemberian dari keempat perlakuan tersebut terhadap pertambahan bobot badan domba lokal jantan lepas sapih dilakukan analisis keragaman yang terlihat pada Tabel 9 berikut.
Tabel.9. Daftar analisa ragam pertambahan bobot badan domba jantan selama penelitian (g/ekor/hari).

Keragam DB JK KT F.hit F.tabel
0,05 0,01
Perlk. 3 1650.166 550.0554 0.753024tn 3,24 5,29
Galat 16 11687.39 730.462
Total 19 13337.56
Keterangan: tn = tidak nyata

Hasil analisis ragam pada Tabel 9 menunjukkan bahwa Fhitung lebih kecil dari Ftabel 0.05. Hal ini berarti pemberian pakan menggunakan semak bunga putih dengan level 15% sampai dengan 45% adalah tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertambahan bobot badan (P>0.05). Pada Tabel 9 dapat dilihat bahwa pertambahan bobot badan tidaklah menunjukkan perbedaan yang nyata walaupun secara angka matematis berbeda. Hal ini juga terjadi karena adanya pengaruh dari jumlah konsumsi yang tidak menunjukkan perbedaan nyata, sehingga berdampak pada pertambahan bobot itu sendiri. Ini juga terjadi akibat dari kandungan protein kasar yang dikandung oleh keempat perlakuan tidaklah terlalu berbeda. Hal ini juga didukung oleh Soeparno (1994) yang menyatakan bahwa jenis, kandungan gizi dan konsumsi pakan mempunyai pengaruh yang besar terhadap pertumbuhan. Hal ini juga terjadi seiring dengan umur, genetik dan bobot badan awal ternak yang masih homogen. Sesuai dengan yang dinyatakan oleh Tomaszewska et al. (1993) bahwa laju pertambahn bobot badan dipengaruhi oleh umur, lingkungan dan genetik dimana berat tubuh awal fase penggemukan berhubungan erat dengan berat dewasa. Pertambahan bobot badan dalam penelitian ini tidak berkorelasi positif dengan konsumsi bahan kering pakan.
Penelitian Chromolaena odorata sampai level 20% pada domba yang dilakukan oleh Apori dkk (2003) menunjukkan bahwa tidak terjadi pertambahan bobot badan yang nyata. Hal ini kemungkinan berkaitan dengan tingkat palatabilitas yang rendah dari Chromolaena odorata sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Ikhimioya (2003). Disamping itu, Chromolaena odorata mempunyai zat antinutrisi yang menurut Church (1972) bahwa antinutrisi pada pakan ternak dapat menurunkan kecernaan protein. Hal inilah kemungkinan yang menyebabkan walaupun kandungan protein Chromolaena odorata cukup tinggi, namun zat antinutrisi yang dikandungnya menyebabkan kecernaan N nya menurun.
Selanjutnya dari hasil penelitian Apori dkk, dinyatakan bahwa kecernaan N dari pakan yang diberi Chromolaena odorata sampai 20% adalah 58.1-66% dan kecernaan bahan organik adalah 46.8-54.1%. Kecernaan yang rendah dari N dan bahan organic seperti yang dikataka oleh Chruch (1972) biasanya berkaitan dengan kandungan antinutrisi pada pakan. Menurut Ikhimioya (2003) antinutrisi yang terdapat pada semak bunga putih adalah haemagglutinnin, Oxalate, Phytic acid dan Saponin. Hasil penelitian Ginting (1987), bahwa pakan domba yang mengandung zat antinutrisi yaitu tannin akibat pemberian kekacangan Bauhinia purpurea L maka perlakuan pakan tidak berpengaruh terhadap kecernaan N dan pertambahan bobot badan. Hasil penelitian Wiryasasmita dan Nuramaliati (1984) dengan pakan yang mengandung antinutrisi yaitu tannin, menyebabkan terjadinya penurunan pertambahan bobot badan pada ruminansia.

Konversi Pakan
Untuk mengetahui pengaruh pemberian perlakuan terhadap pertumbuhan domba lokal jantan lepas sapih dilakukan analisis ragam yang terlihat pada Tabel 10 berikut.
Tabel.10. Daftar analisis ragam konversi pakan domba jantan selama penelitian

Kragam DB JK KT F.hit F.tabel
0,05 0,01
Perlk. 3 10.42074 3.473582 0.574159tn 3,24 5,29
Galat 16 96.79779 6.049862
Total 19 107.2185
Keterangan: tn = tidak nyata

Hasil analisis ragam pada Tabel 10 menunjukkan bahwa Fhitung lebih kecil dari Ftabel 0.05. Hal ini berarti pemberian pakan menggunakan semak bunga putih dengan level 15% sampai dengan 45 % adalah tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap konversi pakan (P>0.05). Pertambahan bobot hidup domba tidak berbeda nyata karena ternak tersebut dalam mengkonsumsi pakan yang jumlahnya tidak berbeda nyata pula. Hal ini menghasilkan konsekuensi bahwa konversi pakan juga tidak berbeda nyata. Konversi pakan khususnya ternak ruminansia kecil dipengaruhi oleh kualitas pakan, nilai kecernaan dan efisiensi pemanfaatan zat gizi dalam proses metabolisme di dalam jaringan tubuh ternak. Makin baik kualitas pakan yang dikonsumsi ternak, akan diikuti oleh pertambahan bobot badan yang lebih tinggi dan makin efisien penggunaan pakannya Pond et al. (1995). Kurang efisiennya penggunaan pakan dengan meningkatnya level penggunaan semak bunga putih kemungkinan karena nilai kecernaan pakan yang semakin rendah. Hal ini bersesuaian juga dengan hasil penelitian Apori dkk. (2003) yang menyatakan bahwa pemberian Chromolaena odorata sampai 20% tidak berpengaruh nyata terhadap kecernaan. Juga hal ini didukung oleh penelitian Haryanto et al. (1992), yang menyatakan nilai kecernaan yang rendah menyebabkan pakan menjadi tidak efisien.

Rekapitulasi Hasil Penelitian
Pada hasil penelitian secara menyeluruh diatas dapat digambarkan pada Tabel 11 berikut.
Tabel 11. Daftar rekapitulasi hasil penelitian Pemanfaatan Chromolaena odorata Dalam Pakan Terhadap Performans Domba Lokal Jantan Lepas Sapih

Parameter yang diamati Perlakuan
P0 P1 P2 P3
Konsumsi Pakan (g/ekor/hari) 517.61tn 555.36tn 535.07tn 534.27tn
Pertambahan Bobot Badan (g/ekor/hari) 69.33tn 87.11tn 83.20 tn 80.44tn
Konversi Pakan 8.08tn 7.03tn 9.06tn 8.20tn

Pada Tabel 11 dapat dilihat bahwa hasil penelitian tersebut dari konsumsi pakan, pertambahan bobot badan dan konversi pakan tidak memberikan pengaruh yang nyata dalam setiap perlakuan.

KESIMPULAN DAN SARAN


Kesimpulan

Pemberian Chromolaena odorata tidak menunjukkan perbedaan nyata terhadap konsumsi pakan, pertambahan bobot badan, dan konversi pakan sehingga keseluruhan perlakuan terdapat kecenderungan bahwa pemberian Chromolaena odorata dapat diberikan pada domba lokal jantan lepas sapih sampai dengan level 45 % sebagai bahan pakan inkonvensional.


Saran

Disarankan kepada peternak untuk memberikan pakan dengan kandungan semak bunga putih level 15% kepada ternaknya, dimana bahan-bahan yang digunakan cukup mudah diperoleh dari hasil limbah pertanian maupun industri pertanian.





DAFTAR PUSTAKA

Anggorodi, R., 1979, Ilmu Kesehatan Ternak Umum. PT. Gramedia, Jakarta.

Anggorodi, R., 1990, Ilmu Kesehatan Ternak Umum. PT.Gramedia, Jakarta.

Apori, S. O., Odoi F. N. A., Ganyo, E., 2003, : Intake And Digestibility Of Organic Matter And Nitrogen In Chromolaena Odorata Leaf Meal-Based Diets By Sheep. Ghana Journal of Agricultural Science

Basir, H. J. 1990). Penggunaan Limbah Pertanian Sebagai Pakan Ternak, Laporan Penelitian Jurusan Peternakan, Fakultas Peternakan Universitas Syiah Kuala Darussalam, Banda Aceh.

Blakely, J., dan D. H. Bade, 1998. Ilmu Peternakan, Edisi 4, UGM Press, Yogyakarta
Cahyono, B., 1998, Beternak Domba dan Kambing. Kanisius, Yogyakarta.

Church, H.L. 1972. Digestive Physiology and Nutrition of Ruminant 2nd Ed. Vol.II. Dep. Anim. Sci USA. P . 115-248

Davendra, C; 1997. Utilization of Feedingstuffs from the Oil Palm. Feedingstuffs for Livestock In South East Asia, Serdang Selangor, Malaysia.

Devendra, C. and Burns., 1970, Goat Production In The Tropics. C. A. B., Farham Royal Bucks, England

Departemen Pertanian, 2002. Teknologi Tepat Guna: Budi Daya Peternakan, Jakarta.

Nurjainah Ginting, 1987. Bauhinia Purpurea L Untuk Domba Ditinjau Dari Segi Neraca N. Institut Pertanian Bogor. Bogor

http:// www.iptek.net,id/eng/index <9>. .

Hammond, J. R., I. L. Mason and T. J. Robinson, 1976. Hammonds Farm Animals, Edward Arnold. London.

Hanafiah, K. A., 2002, Rancangan Percobaan: Teori dan Aplikasi. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Hassan, A. and M. Ishada, 1991. Effect of Water, Molasses and Urea Addition on Oil Palm Frond Silage Quality, Fermentation and Palatability, In Proceeding of the Third International Symposium on the Nutrition of Herbivora, Penang.

http//www.pustaka.bogor.net.2003. <>

http://www.wikipedia.org/pokokkelapasawit, 2006. <>

Ikhimiyoya,2003. Acceptability of selected common shrubs/tree leaves in Nigeria by West African Dwarf Goats. Departement of Animal Science, Faculty of Agriculture, Ambrose Alli University, Ekpoma, Nigeria.

Kartadisastra, H. R. 1997, penyediaan dan Pengolahan Pakan Ternak Ruminansia. Kanisius, Yogyakarta.

Komar; 1984. Teknologi Pengolahan Jerami Sebagai Makanan Ternak, Yayasan Dian Grahita, Bandung.

Martawidjaya, M. B. Setiadi dan S. S. Sitorus, 1999, Pengaruh Tingkat Protein Energi Ransum Terhadap Kinerja Produksi Kambing Kacang Muda. Balai Penelitian Ternak, Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner 4(3).

Maynard, L. A. Loosly, J. K. Hintz, H. F. and Warner, R. G., 1979, Animal Nutrition. Mc Graw-Hill Publishing Press, Bombay, New Delhi.

Marthen, L.M ; 2007. Pemanfaatan Semak Bunga Putih (Chromolaena odorata) Untuk Peningkatan Produksi Tanaman Dan Ternak. Fakultas Peternakan, Universitas Nusa Cendana Kupang NTT.

M.A. Bamikole, U.J. Ikhatua and A.E. Osemwenkhae , 2006. A Case of Chromolaena odorata Feeding to Sheep. Department of Animal Science, University of Benin, Benin City, Nigeria

Nasution, U., 1986. Gulma dan Pengendaliannya di Perkebunan Karet Sumatera Utara dan Aceh. PT. Gramedia, Jakarta.

Neshum, M. C. R. E. A. and L. E. Card, 1979, Poultry Production, Lea and Febiger, Philadelphia.

N. R. C. 1995, Nutrient Requirement of Sheep. National Academy of Science, Washington DC.

Parakkasi, A., 1995, Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Ruminansia. UI Press, Jakarta.

Pardede, S. I. dan S. Asmira, 1997. Pengolahan Produk Sampingan Industri Pertanian Menjadi Permen Jilat Untuk Sapi Potong Yang Dipelihara Secara Tradisional, Karya Tulis Ilmiah Bidang Studi Peternakan, Universitas Andalas, Padang.

Pink, A., (2004). Gardening for the Million Project Gutenberg Literary Archive Foundation.

Rovihandono, R; 2005. Memulihkan Rumput Sabana di Sumba Timur Melalui Pemanfaatan Gulma.Yayasan Kehati, Jakarta.
http://www.bakti.org/index.php <10>

Setiadi, B., dan I. Inounu, 1991. Beternak Kambing-Domba Sebagai Ternak Potong, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Bogor.

Sodiq, A. dan Z. Abidin, 2002, Kiat Mengatasi Permasalahan Praktis: penggemukan Domba. PT. Agro Media Pustaka, Jakarta.

Sumoprastowo, R. M., 1993. Beternak Domba Pedaging dan Wol, Bhratara, Jakarta.

Sutardi, T., 1980, Landasan Ilmu Nutrisi Jilid I, Departemen Ilmu Makanan Ternak. Fakultas Pertanian IPB, Bogor.

Tillman, A. D., H. Hartadi, S. Reksohadiprojo, S. Prawirokusumo dan S. Lepdosoekojo, 1991. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Tomaszeweska, M. W., J. M, Mastika, A, Djaya Negara, S. Gardiner dan T. R. Wiradarya, 1993. Produksi Kambing dan Domba di Indonesia. Universitas 11 Maret, Surabaya.

Utomo, R. 2004. Review Hasil-Hasil Penelitian Pakan Sapi Potong, Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. Balitbang Pertanian, Deptan, Bogor.

Van Soest, R. J. 1982. Nutritional Ecology of the Ruminant. Durhom and Downey Inc, USA.

Williamson, G dan W.J.A. Payne, 1993. Pengantar Ilmu Peternakan di Daerah Tropis. UGM-Press, Yogyakarta.

Wiryasasmita, R. dan S. Nuramaliati. 1984. Penggunaan Bauhinia purpurea L. Dalam Ransum Ternak Kambing Peranakan Etawah. Lembaga Biologi Nasional, LIPI. Bogor, Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar